GooleTranslate

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Sumber : http://m-wali.blogspot.com/2011/12/cara-pasang-widget-google-translet-di.html#ixzz1rdzFzDPw

Selasa, 10 April 2012

Draf Proposal Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui penggunaan Metode Bermain Peran pada Siswa Kelas IV SD Negeri Mandai Makassar



A.    Masalah dan Pemecahan Masalah                                                                    
1.      Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah yang dihadapi dalam pembelajaran IPS yaitu rendahnya hasil belajar IPS yang disebabkan oleh cara mengajar guru yang masih bersifat konvensional dimana proses pembelajaran banyak didominasi oleh guru.
2.      Pemecahan Masalah
Masalah mengenai rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri Mandai Makassar akan dipecahkan melalui penerapan metode bermain peran.

B.     Latar Belakang Masalah dan Alasan Pemilihan Pemecahan Masalah
Berdasarkan hasil observasi awal peneliti yang dilakukan di kelas IV SD Negeri Mandai Makassar pada tanggal 24 September 2011 diperoleh keterangan dari guru bidang studi IPS bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal IPS masih sangat rendah, bahkan nampaknya siswa merasa takut dan malu bertanya tentang materi yang belum diketahui pada saat pembelajaran IPS. Hal ini dikarenakan penyajian materi masih bersifat monoton, sehingga siswa kurang tertarik untuk belajar IPS. Dalam situasi seperti ini siswa merasa bosan karena kurangnya dinamika inovasi, kekreatifan siswa belum dilibatkan secara aktif akibatnya siswa sulit untuk mengembangkan pembelajaran yang benar-benar berkualitas berdasarkan hasil wawancara dengan guru bidang studi IPS di sekolah tersebut. Diperoleh informasi bahwa rata-rata skor hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri Mandai Makassar pada saat dilaksanakan ujian semester Ganjil tahun pelajaran 2010/2011 adalah 58,5 berada di bawah nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan di sekolah tersebut, yakni 65 dari skor ideal 100. Hal ini menggambarkan bahwa hasil belajar IPS siswa masih tergolong rendah.
Untuk mengatasi masalah rendahnya hasil belajar IPS maka perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar sehingga materi IPS dapat dicerna dengan baik oleh siswa. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran adalah metode bermain peran.
Salah satu komponen sistem pembelajaran yang harus diperbaiki yaitu metode pembelajaran. Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar adalah metode bermain peran.
Para ahli telah melakukan penelitian pada berbagai metode pembelajaran yang dapat mengefektifkan pembelajaran di kelas, satu diantaranya metode pembelajaran bermain peran.
Penerapan pengajaran berdasarkan pengalaman lainnya ialah bermain peran. Didalam bermain, peran guru menerima peran ide-ide orang lain dalam suatu situasi yang khusus. Bermain peran memungkinkan para murid mengidentifikasi situasi-situasi dunia nyata dan dengan ide-ide orang lain. (Hamalik, 2008: 214)

Metode ini dirancang khusus untuk membantu murid memperoleh nilai-nilai sosial dan moral dan pencerminannya dalam perilaku. Karena itu, dimensi sosial metode ini memungkinkan individu untuk bekerja dalam menganalisis situasi sosial, terutama permasalahan interpersonal melalui cara-cara yang demokratis guna menghadapi situasi tersebut. Melalui penerapan metode bermain peran menuntut investigasi masalah murid dalam belajar, baik secara individual kelompok maupun klasikal.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis termotivasi untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui penggunaan Metode Bermain Peran pada Siswa Kelas IV SD Negeri Mandai Makassar”.


C.    Landasan Teori dari Pemecahan Masalah yang Dipilih
1.      Hasil Belajar IPS
a.       Pengertian Hasil Belajar IPS
Menurut Sudjana (2009:22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Berdasarkan pendapat di atas, maka hasil belajar IPS adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima materi pelajaran IPS.
b.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Daryanto (2010:36-50) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu:
1)      Faktor-faktor intern, berupa: faktor jasmaniah, terdiri atas faktor kesehatan, cacat tubuh, faktor psikologis, terdiri atas intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan; dan faktor kelelahan.
2)      Faktor-faktor ekstern, berupa: faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antaranggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, latar belakang kebudayaan), faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah), faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat).

2.      Metode Pembelajaran Bermain Peran
a.      Pengertian
Bermain peran adalah salah satu strategi pengajaran yang menyediakan kesempatan kepada murid untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar secara aktif dengan personalisasi. Menurut Ahmadi (1987:65) bahwa bermain peran adalah metode mengajar dengan menekankan kenyataan dimana para murid diikutsertakan dalam permainan peranan di dalam mendemonstrasikan masalah-masalah sosial. Model pembelajaran bermain peran (role playing) dijadikan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar murid terhadap mata pelajaran Berbicara di sekolah, sehingga adanya anggapan bahwa mata pelajaran Berbicara merupakan pelajaran yang membosankan dan terkesan hanya teori saja lambat laun menjadi hilang.
Tujuan dari pelaksanaan model pembelajaran bermain peran (role playing) yaitu menekankan murid untuk belajar aktif dimana didalamnya terdapat suatu bekal pengetahuan dan latihan keterampilan afektif, kognitif, dan psikomotorik, serta pengalaman praktis agar murid memiliki kompetensi dan efektifitas dalam berpartisipasi. Model ini dirancang khususnya untuk membantu murid mempelajari nilai-nilai sosial dan moral dan pencerminannya dalam perilaku. Di samping itu metode ini digunakan pula untuk membantu para murid mengumpulkan dan mengorganisasikan isu-isu moral dan sosial, mengembangkan empati terhadap orang lain, dan berupaya memperbaiki keterampilan sosial. Sebagai model mengajar, metode ini mencoba membantu individu untuk menemukan makna pribadi dalam dunia sosial dan berupaya memecahkan dilema-dilema sosial dengan bantuan kelompok. Karena itu pada dimensi sosial metode ini memungkinkan individu untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi sosial, terutama permasalahan interpersonal melalui cara-cara yang demokratis guna menghadapi situasi tersebut.
Jika ditelaah dari esensinya, model bermain peran lebih menitikberatkan keterlibatan partisipan dan pengamat dalam situasi atau masalah nyata serta berusaha mengatasinya. Melalui proses ini disajikan contoh perilaku kehidupan manusia yang merupakan contoh bagi murid untuk menjajangi perasaannya, menambah pengetahuan tentang sikap, nilai-nilai dan persepsinya, mengembangkan keterampilan dan sikapnya di dalam pemecahan masalah, serta berupaya mengkaji pelajaran dengan berbagai cara.

b.      Kelebihan dan kelemahan metode pembelajaran bermain peran (role playing)
1)      Kelebihan metode pembelajaran bermain peran
a)      Murid bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
b)      Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
c)      Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap murid melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
d)     Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
2)      Kelemahan metode bermain peran
a)       Metode ini menjadi tidak efektif ketika murid kesulitan atau terkadang merasa malu dan tidak percaya diri memerankan perannya.
b)      Bermain peran memakan waktu yang banyak.
c)       Bermain peran mungkin tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung.
d)      Jika murid tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan secara sungguh-sungguh.

c.       Langkah-langkah Metode Pembelajaran Bermain Peran
Shaftel (Aunurrahman, 2009: 155) menyarankan 9 langkah penerapan metode bermain peran (role playing) di dalam pembelajaran, yaitu:
Fase pertama, membangkitkan semangat kelompok, memperkenalkan murid dengan masalah sehingga mereka mengenalnya sebagai suatu bidang yang harus dipelajarinya.
Fase kedua, pemilihan peserta, dimana guru dan murid menggambarkan berbagai karakter/bagaimana rupanya, bagaimana rasanya, dan apa yang mungkin mereka kemukakan.
Fase ketiga, menentukan arena panggung, para pemain peran membuat garis besar skenario, tetapi tidak mempersiapkan dialog khusus.
Fase keempat mempersiapkan pengamat. Pelibatan pengamat secara aktif merupakan hal yang sangat penting agar semua anggota kelompok mengalami kegiatan tersebut dan kemudian menganalisisnya. Cara guru melibatkan murid adalah dengan menugaskan mereka untuk mengevaluasi, mengomentari efektifitasnya, mengomentari urutannya perilaku pemain dan mendefinisikan perasaan-perasaan dan cara-cara berpikir individual yang sedang diamati.
Fase kelima, pelaksanaan kegiatan. Pada fase ini para pemeran mengasumsikan perannya, menghayati situasi secara spontan dan saling merespon secara realistik.
Fase keenam, berdiskusi dan mengevaluasi, apakah masalahnya penting, dan apakah peserta dan pengamat terlibat secara intelektual dan emosional.
Fase ketujuh, melakukan lagi permainan peran. Pada fase ini murid dan guru dapat berbagi interprestasi baru tentang peran dan menentukan apakah harus dilakukan oleh individu-individu baru atau tetap oleh orang terdahulu.
Fase kedelapan, dilakukan lagi diskusi dan evaluasi. Murid mungkin mau menerima solusi, tetapi guru mendorong solusi yang realistik. Selama mendiskusikan pemeran ini guru menampakkan tentang apa yang akan terjadi kemudian dalam pemecahan masalah itu.
Fase kesembilan, berbagai pengalaman dan melakukan generalisasi. Tidak dapat diharapkan untuk menghasilkan generalisasi dengan segera tentang aspek hubungan kemanusiaan tentang situasi tertentu. Guru harus mencoba untuk membentuk, diskusi, setelah mengalami strategi bermain peran yang cukup lama, untuk dapat menggeneralisasi mengenai pendekatan terhadap situasi masalah serta akibat-akibat dari pendekatan itu. Semakin memadai pembentukan diskusi ini, kesimpulan yang dicapai akan semakin mendekati generalisasi.



DAFTAR PUSTAKA



Ahmadi, Abu dan Joko Tri Prasetya. 1987. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Daryanto. 2010. Belajar dan Mengajar. Bandung: Irama Widya.

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Proses Hasil Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar